Postingan

REUNI 212. POLITIS KAH?

REUNI 212 DITINJAU DARI BERBAGAI PERSPEKTIF Aksi berjilid-jilid angka cantik. Ya, itu biasa kita menyebutnya. Aksi kemarin tidak bisa kita pungkiri sebagai aksi yang sangat indah, bahkan melihat foto yang di-unggah oleh ustad Felix Siauw pun dapat membuat kita tersentuh. Bagaimana tidak? Barisan umat muslim bersatu dalam satu barisan, tidak peduli apa latar belakang mereka, apa pekerjaan mereka, dan apa status sosial mereka. Hanya satu tujuan yang mereka pikirkan, yaitu aksi membela agama. Ini, adalah reuni yang kedua. Kadang kita dibangku mahasiswa suka bergurau “ sekolah mana sih 212 ini, sampai reuni berkali-kali.” Ya, tapi itu hanyalah sebatas gurauan kami dari mahasiswa semester awal yang masih banyak harus belajar ha-ha-ha. Dalam hati kami tetap mengagumi kekuatan ikatan agama yang dapat menyatukan umat segitu banyak dan terbilang konsisten jumlahnya untuk sekedar hadir dan berdoa bersama di Monas. Banyak yang bisa dibahas dalam reuni aksi yang menurut pandangan saya...

kartu kuning

KARTU KUNING  banyak  yang membenci namun tak sedikit pula yang mengapresiasi ada yang menganggap itu bodoh ada pula yang menganggap itu berani ayolah teman, jangan terlalu mudah tergiring opini sebentar lagi kita masuk pesta demokrasi perbedaan perspektif itu memang kerap terjadi tapi jangan sampai kita saling membenci KARENA KITA SATU NKRI

Demokrasi Tanpa Parpol

Demokrasi Tanpa Parpol Pada umumnya, Partai politik memang diciptakan untuk memudahkan sistem pemerintahan demokrasi. Dan pada sejarahnya, memang parpol tercipta karena cakupan wilayah sudah mulai luas. Yang semula hanya di lingkup kerajaan atau intern pemerintah. Berkembang ke banyak lapisan masyarakat. Yang pada awalnya, Partai Politik diciptakan untuk menjadi penyambung lidah antara masyarakat dan pemerintah. pada perkembangannya amulai melenceng dari tujuan awalnya. Bisa kita lihat dari angka korupsi di Indonesia, MAYORITAS dilakukan oleh para politisi yang tergabung dalam partai politik tertentu. Peta perpolitikan yang saling sikut menyikut antar parpol, seakan akan menandakan bahwa partai politik tidak sesuai fungsi awalnya lagi yaitu sebagai penyambung lidah rakyat, melainkan sebagai palang pintu menuju kekuasaan.   Terkadang, saya bingung. saat proses kaderisasi partai politik, pastilah mereka diajari untuk selalu cintqa tanah air, dan anti korupsi. Na...