REUNI 212. POLITIS KAH?
REUNI 212
DITINJAU DARI BERBAGAI PERSPEKTIF
Aksi berjilid-jilid angka cantik. Ya,
itu biasa kita menyebutnya. Aksi kemarin tidak bisa kita pungkiri sebagai aksi
yang sangat indah, bahkan melihat foto yang di-unggah oleh ustad Felix Siauw
pun dapat membuat kita tersentuh. Bagaimana tidak? Barisan umat muslim bersatu
dalam satu barisan, tidak peduli apa latar belakang mereka, apa pekerjaan
mereka, dan apa status sosial mereka. Hanya satu tujuan yang mereka pikirkan,
yaitu aksi membela agama.
Ini, adalah reuni yang kedua. Kadang
kita dibangku mahasiswa suka bergurau “
sekolah mana sih 212 ini, sampai reuni berkali-kali.” Ya, tapi itu hanyalah
sebatas gurauan kami dari mahasiswa semester awal yang masih banyak harus
belajar ha-ha-ha. Dalam hati kami
tetap mengagumi kekuatan ikatan agama yang dapat menyatukan umat segitu banyak
dan terbilang konsisten jumlahnya untuk sekedar hadir dan berdoa bersama di
Monas. Banyak yang bisa dibahas dalam
reuni aksi yang menurut pandangan saya bisa dibilang aksi tersukses se-dekade belakangan ini. Dan yang paling menarik untuk
kita bahas yaitu perspeksi masyarakat dalam melihat reuni gerakan ini.
Reuni ini dapat kita kaji dari tiga
sudut pandang yang beredar di masyarakat. Yang pertama dapat dikaji dari sudut
pandang yang menganggap aksi reuni 212 ini sebagai sebuah cikal bakal gerakan
kekhifahan yang diserukan oleh Hizbut
Tahrir Indonesia. Mereka menganggap bahwa aksi angka cantik yang kerap kali
dibuatkan ajang reuni menjadi ajang dalam menyebarkan ideologi kekhalifahan dan
mereka khawatir aksi ini akan mengancam kedaulatan NKRI dan Pancasila.
Kedua, dikaji
dari sudut pandang masyarakat yang menganggap bahwa aksi ini murni hanya untuk menjaga
persatuan antar umat islam yang dianggap cenderung merenggang. Mereka beranggapan
bahwa ini adalah momentum yang harus dijaga. Karena apa? Ini adalah momen yang
sangat indah dan harus dilestarikan. Ini menjadi pengingat untuk ummat bahwa
mereka pernah bersama satu dalam barisan dan tujuan. Yaitu membela agama.
Ketiga, inilah
yang menarik untuk dibahas dan dikaji. Yaitu pandangan masyarakat yang menilai
bahwa gerakan reuni 212 ini ialah sebagai sebuah agenda politik. Mereka yang
tergolong dalam kelompok ini memandang aksi 212 yang terus menerus diulang ini
mempunyai maksud dan tujuan tertentu, terutama dibidang politik. Mereka percaya
bahwa aksi semacam ini sangat amat bermuatan politik dan mendukung salah satu
paslon tertentu.
Menurut pandangan pribadi saya,
terlepas dari semua perdebatan yang ada reuni 212 tersebut tetaplah bersifat
politis. Tapi, apakah salah bersifat politis? kalian pun tanpa sadar pastilah bersifat politis atas segala sesuatu hal yang kalian lakukan. Misal, elu pengen didengar oleh orang lain. apakah itu politis? Tentu. Hal-hal yang bersifat politis dimulai dari hal-hal yang bersifat sederhana. Namun yang
dipersoalkan disini adalah, apakah itu melanggar aturan dan etika dalam
berkampanye? Bawaslu sendiri mengatakan reuni tersebut tidaklah melanggar etika
dalam berkampanya. Lalu apa masalahnya?
Perihal terdengar nyanyian nyanyian yang diarahkan pada paslon nomor satu pun
menurut pandangan pribadi saya merupakan sebuah kewajaran. Sudah sewajarnya
seorang petahana dikritik karena tidak puasnya masyarakat yang dipimpinnya. Itu
lebih mengarah kepada pilihan politik dari para peserta reuni tersebut. Menurut
saya, selama tidak ada agenda resmi dari panitia pelaksana 212 yang berkaitan
dengan pemilu dan aturan kampanye tidak menjadi masalah.
Disini kita memang bisa melihat,
bahwa massa reuni 212 mayoritas adalah penggambaran dari suara dari mereka yang
memilih paslon nomor 2. Disini Thread
Starter yaitu saya sendiri tidak menyebut bahwa peserta reuni 212 ini
merupakan murni perwujudan pendukung paslon nomor 2. Namun bisa digambarkan
sebagai kisi-kisi dari mereka yang menentukan pilihannya ke paslon nomor dua. Memang
cukup ironis kalau saya lihat disini,
ketika salah satu penggerak aksi 212 tersebut ada di paslon nomor 1 bahkan
menjadi cawapres, justru masih banyak pula alumni 212 yang mendukung paslon
nomor dua. Hahaha tidak kok, saya
hanya bergurau. Intinya jangan sampai kontestasi memecah persatuan dan
persahabatan kita bersama ya, kawan!
Komentar
Posting Komentar